Fans K-Pop Desak Bank Korsel Hentikan Pendanaan Batu Bara untuk Proyek Nikel di Indonesia

photo

JAKARTA, 3 JANUARI 2026 — Gelombang protes terhadap pendanaan proyek berbasis batu bara kembali menguat. Kali ini datang dari komunitas penggemar K-pop di Indonesia.

Dalam momentum Hari Hak Asasi Manusia dan Hari Hak Asasi Hewan Sedunia, jaringan aktivis KPOP4PLANET bersama penggemar G-Dragon BigBang mengirimkan surat terbuka kepada Hana Bank, mendesak bank asal Korea Selatan tersebut menghentikan pendanaan proyek nikel yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Pulau Obi, Maluku Utara.

Desakan tersebut menyasar keterlibatan Hana Bank dalam pembiayaan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), anak usaha Harita Nickel, yang operasionalnya masih mengandalkan energi fosil.

Padahal, induk usaha Hana Bank, Hana Financial Group, sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk menghentikan pembiayaan proyek PLTU batu bara, baik di dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan laporan Recourse (2024), KEB Hana Bank Indonesia bersama sejumlah bank internasional menyalurkan pinjaman senilai US$530 juta kepada HJF pada 2022. Sementara laporan Market Forces mencatat, sejak 2018 Hana Bank telah mengucurkan pembiayaan sebesar US$84 juta kepada Grup Harita.

Aksi ini menjadi bagian dari kampanye “Hana, Bring K-pop Not Coal” yang dipimpin oleh penggemar K-pop Indonesia. Kampanye tersebut menyoroti ironi penunjukan G-Dragon sebagai brand ambassador Hana Financial Group, di tengah keterlibatan perusahaan dalam pembiayaan proyek yang dinilai merusak lingkungan.

“Sebagai penggemar, kami bangga idola kami menjadi wajah Hana. Namun kami kecewa karena di Indonesia justru ada pembiayaan yang membahayakan lingkungan dan masyarakat lokal. Kami ingin Hana membawa K-pop, bukan batu bara,” ujar Nurul Sarifah, Juru Kampanye KPOP4PLANET Indonesia.

Dampak lingkungan dari proyek nikel tersebut dinilai signifikan. Laporan Keberlanjutan Harita 2024 mencatat emisi perusahaan mencapai 10,87 juta ton CO₂e per tahun, hampir setara 1 persen dari total emisi Indonesia pada 2023. Angka itu disebut sebanding dengan emisi tahunan 2,36 juta mobil berbahan bakar gas.

Selain emisi, berbagai laporan juga menyoroti dampak sosial dan ekologis di Pulau Obi. Climate Rights International (2025) melaporkan adanya pelanggaran hak atas tanah dan relokasi paksa masyarakat lokal.

Sementara investigasi The Gecko Project menemukan kandungan logam berat berbahaya pada ikan di sekitar wilayah proyek, yang berisiko bagi kesehatan, khususnya anak-anak.

Menurut Ginanjar Ariyasuta dari Indonesia Market Forces, pendanaan Hana Bank turut memperparah krisis iklim karena mendukung pembangunan PLTU captive berkapasitas 2,1 GW, jenis pembangkit yang telah diperingatkan oleh International Energy Agency (IEA) untuk segera dihentikan.

“Hana Bank perlu berhenti membiayai perusahaan yang bergantung pada PLTU captive berbasis batu bara, termasuk Grup Harita,” tegas Ginanjar.

Hana Bank sendiri memiliki basis kuat di kalangan anak muda Indonesia melalui LINE Bank, yang pada 2024 mencatat lebih dari 1,2 juta nasabah. Popularitas ini juga didorong oleh strategi pemasaran yang menggandeng idola K-pop ternama.

Sebagai tindak lanjut, tujuh basis penggemar telah menandatangani surat terbuka yang akan dikirimkan ke kantor pusat Hana Bank di Seoul. Lebih dari 161 ribu penggemar lainnya turut mendukung aksi daring dengan menandai akun media sosial Hana Bank dan menuntut pertanggungjawaban.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News