Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut, Inovasi Perawatan Harian Dinilai Jadi Kunci Pencegahan

photo

JAKARTA, 3 JANUARI 2026 — Tingginya angka masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dalam perawatan harian.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 56,9 persen penduduk usia di atas tiga tahun mengalami gangguan gigi dan mulut, mulai dari gigi berlubang, perubahan warna gigi, hingga bau mulut.

Pola konsumsi kopi, teh, serta makanan beraroma tajam yang semakin umum di tengah gaya hidup modern, ditambah kebiasaan menyikat gigi yang belum tepat, membuat persoalan tersebut kerap dianggap sebagai hal lumrah. Padahal, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani dengan benar.

Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, Michelle, menilai tantangan kesehatan gigi di Indonesia sejatinya bisa ditekan melalui edukasi yang konsisten, perubahan kebiasaan sederhana, serta pemanfaatan teknologi perawatan gigi yang aman dan berbasis sains.

“Perawatan gigi bukan sekadar soal estetika, tetapi bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Inovasi perlu benar-benar membantu masyarakat menjaga kesehatan gigi dengan cara yang tepat dan sesuai kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gigi dan mulut disebut terus meningkat, seiring berkembangnya kebutuhan akan produk perawatan diri yang tidak hanya memberikan hasil instan, tetapi juga aman untuk penggunaan jangka panjang. Edukasi mengenai teknik menyikat gigi yang benar menjadi salah satu aspek penting dalam pencegahan masalah gigi.

Dokter gigi drg. Aswar Sandi menjelaskan, gigi kuning dan bau mulut yang banyak dikeluhkan masyarakat umumnya disebabkan oleh penumpukan plak serta noda dari kopi, teh, rokok, dan sisa makanan beraroma tajam.

Ia menyoroti kebiasaan menyikat gigi dengan tekanan berlebihan atau durasi yang terlalu singkat, yang justru dapat merusak enamel.

“Enamel yang terkikis akan membuat gigi lebih sensitif dan mudah berubah warna. Selain itu, bau mulut sering kali hanya ditutupi aroma, bukan diatasi dari sumber masalahnya,” jelasnya.

Menurut drg. Aswar, pasta gigi yang ideal seharusnya tidak hanya berfokus pada pemutihan, tetapi juga mampu melindungi enamel serta menetralkan penyebab bau mulut. Pendekatan inilah yang kini banyak dikembangkan dalam inovasi produk perawatan gigi modern.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan teknologi enzim untuk membantu mengangkat noda pada permukaan gigi tanpa mengikis enamel, sekaligus kandungan aktif yang berfungsi menetralkan gas sulfur penyebab bau mulut. Pendekatan ini dinilai lebih aman untuk penggunaan harian, terutama bagi masyarakat dengan konsumsi kopi dan teh yang tinggi.

Selain itu, pengembangan formula yang mendukung perbaikan mikro pada enamel juga menjadi perhatian, khususnya bagi pemilik gigi sensitif, pengguna behel, maupun mereka yang menginginkan gigi lebih cerah dengan hasil yang bertahan lama.

Untuk mendukung perawatan gigi yang lebih menyeluruh, sistem perawatan mulut di rumah kini semakin berkembang, mulai dari sikat gigi elektrik, water flosser, hingga produk perawatan khusus anak. Langkah ini dinilai penting untuk membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini di lingkungan keluarga.

“Harapannya, masyarakat tidak lagi menganggap masalah gigi dan mulut sebagai hal yang wajar. Dengan edukasi, teknologi yang tepat, dan akses yang mudah, kesehatan gigi dapat dijaga secara berkelanjutan,” pungkas Michelle.