Sepertiga Karyawan Washington Post di PHK untuk Capai Profit

photo

Washington DC, Sabtu 07 Februari 2026- Surat kabar legendaris AS, Washington Post, pada hari Rabu (4/2) mengumumkan PHK massal terhadap sepertiga dari total karyawan, yang diperkirakan mencapai ratusan pekerja itu

Perusahaan tidak menjelaskan jumlah pasti karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja tersebut, namun New York Times menyebut sekitar 300 reporter yang terdampak, dari total 800 jurnalis yang dimiliki harian tersebut

Departemen olahraga ditutup sepenuhnya, tim berita internasional, lokal, dan gaya hidup dipangkas secara signifikan, serta podcast utama “Post Reports” ditangguhkan

Dalam pengumumanya kepada karyawan, dilansir dari AFP, restrukturisasi yang menyakitkan itu diperlukan. Pemimpin redaksi Matt Murray mengatakan bahwa The Washington Post akan mengalami pengurangan ‘substansial’ di ruang redaksinya

“Hal ini akan membantu mengamankan masa depan kita..dan memberikan stabilitas ke depan,” ujarnya

Penyebab Krisis Keuangan dan Gelombang PHK Massal

Penyebab utama PHK massal di The Washington Post adalah kombinasi dari krisis finansial yang mendalam dan perubahan perilaku konsumen berita yang sangat drastis

Perusahaan milik Jeff Bezos ini, mengalami kerugian operasional tahunan yang mencapai angka US$100 juta akibat penurunan pendapatan dari iklan dan langganan digital yang tidak lagi mampu menutupi biaya operasional yang besar

Kondisi ini diperparah oleh penurunan drastis jumlah pembaca koran fisik dan hilangnya ratusan ribu pelanggan digital setelah adanya kebijakan internal yang kontroversial terkait dukungan politik dalam pemilu

Selain faktor internal, perubahan algoritma mesin pencari yang memangkas trafik kunjungan hingga separuhnya dan munculnya teknologi AI membuat media tradisional semakin sulit menarik audiens

Pihak manajemen juga menilai bahwa struktur organisasi mereka terlalu besar dan lambat dalam beradaptasi dengan tren media sosial yang lebih disukai audiens muda

Hal ini memaksa perusahaan untuk memangkas departemen yang dianggap kurang menguntungkan, seperti divisi olahraga dan beberapa biro internasional, demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan di tengah persaingan industri media yang semakin kompetitif