Tak Bisa Dimodifikasi, BMKG Sebut Dampak Siklon Bisa Diantisipasi

photo

Jakarta, Rabu 28 Januari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena siklon tropis tidak dapat dicegah atau dimodifikasi. Namun, dampak siklon masih bisa diantisipasi.

“Kalau untuk siklon, gini, siklon itu kita tidak mampu melakukan modifikasi. Tidak ada satu negara pun yang mampu melakukan modifikasi cuaca pada bibit siklon atau pusat siklonnya,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Gedung DPR RI, Rabu (28/1/2026) dilansir Kompas.com.

Faisal menjelaskan bahwa potensi bencana di sekitar wilayah yang terdampak oleh siklon, masih bisa diantisipasi dengan mengendalikan peningkatan curah hujan sebelum dan setelah siklon terjadi.

Menurutnya, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu cara untuk menekan intensitas hujan, sehingga risiko bencana dapat diminimalkan.

“Tapi, tentunya ada daerah yang berefek di sana dari siklon tersebut. Itu peningkatan curah hujan sebelum maupun setelah terjadinya siklon itu bisa kita antisipasi,” ujar Faisal.

Lebih lanjut, Faisal memaparkan bahwa modifikasi cuaca secara umum mampu mengurangi intensitas hujan hingga sekitar 30 persen.

“Jadi modifikasi cuaca itu dapat mengurangi intensitas hujan kurang lebih 30 persen. Kurang lebih 30 persen. Apakah itu signifikan? Ya sangat signifikan ya,” ujarnya.

“Jadi bayangkan nanti 30 persen kita kurangi, lalu yang diterima oleh daerah tangkapan hujan, oleh lahan yang ada di bawahnya, itu adalah sekitar 70 persen,” sambungnya.

Selain itu, ia menambahkan, kondisi lingkungan saat ini juga menjadi faktor yang meningkatnya risiko bencana, sehingga upaya antisipasi harus dilakukan secara maksimal.

Perubahan tata guna lahan dan tingginya intensitas pembangunan, membuat wilayah lebih rentan meski curah hujan relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Nah lahannya tersebut itu tentunya perlu jadi pemikiran kritis dari kita. Lima tahun, 10 tahun sebelumnya dengan curah hujan seperti sekarang, itu lahannya masih oke,” kata Faisal.

“Tapi kalau sekarang, dengan perubahan tata guna lahan, intensitas pembangunan yang begitu tinggi, tekanan pada lingkungan, dan sebagainya itu dapat menyebabkan dengan curah hujan yang kurang lebih sama, tapi menyebabkan bencana yang berpotensi terjadi seperti banjir atau tanah longsor,” pungkasnya.